Daratan Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi

Daratan Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi
3Lensa – Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menarik perhatian setelah aktivitas erupsi yang terjadi pada awal September 2026. Fenomena tersebut kemudian dianalisis oleh Badan Geologi Kementerian ESDM berdasarkan hasil pengamatan citra satelit.
Badan Geologi menjelaskan, perubahan bentuk daratan di kawasan Anak Krakatau diduga berkaitan dengan material vulkanik yang keluar selama erupsi. Berdasarkan evaluasi citra satelit Sentinel, terjadi penambahan daratan pada bagian barat laut hingga barat-barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau.
Penambahan tersebut diperkirakan berasal dari material piroklastik dan aliran lava yang mengendap selama rangkaian erupsi pada 4 hingga 6 September 2026. Dari hasil perhitungan sementara, luas daratan yang bertambah mencapai sekitar 32,8 hektare.
Dapatkan Penawaran Spesial → Promo terbatas, klik sekarang!Selain perluasan pada tubuh utama gunung, citra satelit juga memperlihatkan adanya dua gumuk atau gundukan kecil yang berada di sekitar Anak Krakatau. Salah satunya terpantau di bagian barat laut, sedangkan lainnya berada di sisi tenggara.
Badan Geologi menduga kemunculan kedua gumuk tersebut masih berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung secara menerus selama sekitar 25 jam. Material vulkanik yang keluar kemudian dapat menumpuk dan membentuk permukaan daratan baru.
Meski demikian, interpretasi tersebut masih bersifat sementara. Keberadaan serta bentuk kedua gumuk tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung di lapangan. Data citra satelit sebelum dan sesudah erupsi juga akan dibandingkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
Fenomena ini tidak serta-merta menunjukkan telah terbentuk gunung api baru. Material seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi dapat terakumulasi secara bertahap di kawasan laut yang relatif dangkal, hingga sebagian endapannya terlihat di atas permukaan air.
Masyarakat juga diminta tetap memperhatikan faktor keselamatan. Badan Geologi menetapkan wilayah berbahaya di sekitar pusat erupsi dan mengimbau masyarakat tidak mendekati area gumuk yang terpantau di sekitar Anak Krakatau.
Dengan demikian, kemunculan daratan di sekitar Anak Krakatau untuk sementara lebih berkaitan dengan penumpukan material hasil aktivitas vulkanik. Sementara itu, status dua gumuk yang terlihat seperti pulau masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut sebelum dapat dipastikan secara ilmiah.
Kesimpulan: Kemunculan daratan baru tersebut diduga merupakan hasil akumulasi material vulkanik dari aktivitas erupsi Anak Krakatau, bukan otomatis menandakan terbentuknya gunung api baru.
#AnakKrakatau #GunungAnakKrakatau #Krakatau #Erupsi #BeritaTerkini #BeritaIndonesia #InfoTerkini #BeritaNasional #3Lensa
